Minggu, 22 Mei 2016

Guru Besar Mahayana

DEWI TARA


Tetesan air mata Avalokitesvara ada Dewi Tara itu semua dijalaskan ketika Buddha Vairochana bertanya pada sang putri Supuspha apa yang menjadi tujuannya, apakah kehendak yang ada dalam hatinya, lalu ia menjawab; “Kami akan berdiam di dunia ini hingga semua makhluk tanpa terkecuali dibebaskan.” Yang demikian sangat mengejutkan serta menggembirakan Sang Buddha, di mana belum pernah ada orang sebelumnya yang sedemikian mulia, tanpa mementingkan dirinya dan berkehendak yang penuh keberanian. Sebagai tanggapan atas pengorbanan dirinya, kebajikan dan kehendaknya, dan tergerak oleh belas kasihnya kepada semua makhluk, Sang Buddha Vairochana secara spontan melafalkan pujian kepada 21 Tara, pujian terhadap keagungan Dewi Tara.


Sebagai akibat dari pujian yang diucapkan oleh Sang Buddha Vairochana, kemudian diketahui bahwa Putri Supuspha tersebut merupakan penjelmaan dari Dewi Tara, yang pada mulanya berasal dari air mata yang diteteskan oleh Bodhisattva Avalokiteshvara. Avalokiteshvara memiliki belas kasih yang tiada terukur pada semua makhluk. Meskipun beliau telah berusaha untuk menolong semua makhluk, beliau merasa sangat sedih karena begitu banyaknya makhluk hidup yang terus jatuh tanpa harapan ke dalam alam kehidupan yang rendah seperti neraka. Ia melihat bahwa hanya sedikit makhluk hidup yang menempuh jalan menuju pencerahan.

Sabtu, 21 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

SAMANTABHADRA BODHISATVA

Samantabhadra Sumber kebajikan yang luar biasa beliau adalah seorang Bodhisatva dalam mazhab Buddhisme Mahayana yang berhubungan dengan pelaksanaan dan meditasi umat Buddha. Bersama-sama dengan Buddha Sakyamuni dan rekan Bodhisattva Manjustri, ia membentuk Trinitas Shakyamuni dalam Buddhisme. Ia merupakan pemimpi dari Sutra Teratai dan, menurut Sutra Avatamsaka, membuat sepuluh sumpah agung yang merupakan dasar landasan seorang bodhisattva. Di Cina, ia diasosiasikan dengan tindakan, yang mana bodhisattva Manjusri diasosiasikan dengan Kebijaksanaan. Di Jepang, bodhisattva ini sering dipuja oleh sekte Tendai dan Shingon, dan sebagai penjaga Sutra Teratai oleh sekte Nichiren.


Samantabhadra adalah figur utama dalam Sutra Bunga Garland, terutama pada bagian terakhir, Sutra Gandhavyuha. Di penghujung Sutra Gandhavyuha, seorang murid, Sudhana bertemu dengan Bodhisattva Samantabhadra, yang mengajarkannya bahwa kebijaksanaan hanya ada untuk dilakukan; bahwa hal tersebut hanya baik apabila menguntungkan semua mahluk hidup.

Jumat, 20 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

KUMARAJIVA

Kumarajiva yang cerdas dan bijaksana  berasal dari keluarga aristokrat. Ayah beliau, Kumarayana, adalah putra seorang perdana menteri sebuah kerajaan di India. Kumarayana yang seharusnya mewarisi jabatan perdana menteri menurut adat waktu itu, justru memilih kehidupan monastik untuk menjadi bhiksu. Demi tugas menyebarkan Buddha Dharma, Kumarayana meninggalkan India menuju Kerajaan Kucha (sekarang wilayah Xinjiang, Tiongkok). Saat mengandung Kumarajiva, sang ibu mengalami hal yang ajaib. Berubah menjadi lebih cerdas, dengan cepat memahami Buddha Dharma, mampu berbahasa Sansekerta, pun tangkas berdebat dalam Buddha Dharma.



Setelah menetap di ibukota Chang’an, Raja Yaoxing memperlakukan Kumarajiva dengan penuh hormat dan mengangkatnya sebagai Guru Kerajaan (Guoshi). Kumarajiva segera mengorganisir kegiatan penerjemahan Kitab Suci Buddhis yang melibatkan 800 personil. Antara tahun 401-413, Beliau berhasil menyelesaikan terjemahan kitab sebanyak 74 judul dengan total 384 jilid. Setelah meninggal dan dikremasi maka lidah beliau tidak hancur dan umat Buddha mempercayai bahwa itu sebagai pertanda bahwa selama hidup Kumarajiva mengajarkan kebenaran.

Kamis, 19 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

BUDDHA PADMASAMBHAVA

Kata padma berasal dari bahasa Sansekerta. Kata ini diadaptasi ke dalam bahasa Tibet, dan mempunyai arti bunga teratai. Sambhava artinya “lahir dari”. Nama Padmasambhava yang umum dikenal di Tibet adalah Pema Jungney, terjemahan dari bahasa Sansekerta, Padmakara, yang artinya, “berasal dari sekuntum teratai”


Pada saat Padmakara lahir dari sekuntum teratai, dan juga, pada saat dibawa pulang oleh raja Indrabhuti, di manapun beliau duduk, sekuntum bunga teratai seketika itu tumbuh mekar. Sehingga raja berseru, “ Anak ini sungguh-sungguh lahir dari teratai!” Karenanya beliau dikenal sebagai Padmakara.

Rabu, 18 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

ASOKA 

Asoka yang Agung (juga Ashoka, Aśoka, dilafazkan sebagai Asyoka) adalah penguasa Kekaisaran Maurya dari 273 SM sampai 232 SM. Seorang penganut agama Buddha, Asoka menguasai sebagian besar anak benua India, dari apa yang sekarang disebutAfganistan sampai Bangladesh.
Nama "Asoka" berarti 'tanpa duka' dalam bahasa Sanskerta (a – tanpa, soka – duka). Asoka adalah pemimpin pertama Bharata (India) Kuno, setelah para pemimpin Mahabharata yang termasyhur, yang menyatukan wilayah yang sangat luas ini di bawah kekaisarannya, yang bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India dewasa ini.


Menurut cerita legenda, satu hari setelah peperangan usai, Asoka menjelajah kota dan yang bisa dilihat hanyalah rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Hal ini membuatnya muak dan ia berteriak dengan kata-kata yang menjadi termasyhur: "Apakah yang telah kuperbuat?" Kekejian penaklukan ini akhirnya membuatnya memeluk agama Buddha dan ia memakai jabatannya untuk mempromosikan falsafah yang masih relatif baru ini sampai dikenal di mana-mana, sejauhRoma dan Mesir. Sejak saat itu Asoka, yang sebelumnya dikenal sebagai “Asoka yang kejam” (Canda Asoka) mulai dikenal sebagai sang “Asoka yang Saleh” (Dharmâsoka).

Selasa, 17 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

HSUAN TSANG

Hsüan-tsang Bhiksu terpelajar, pelancong, dan penerjemah yang memberikan pengaruh terhadap interaksi antara China dan India di awal Dinasti Tang
Xuanzang lahir dekat Louyang,  henan   tahun 602 sebagai Chén Huī atau Chén Yī  dan meninggal tanggal 5 Februari 664 di Yu Hua Gong. Ia terkenal dengan perjalanan tujuh belas tahunnya ke India, yang mana dia berguru kepada beberapa guru besar, terutama di Nalanda. Ketika kembali ke Tiongkok, dia membawakan 657 teks dalam bahasa Sanskerta. Dengan dukungan kaisar, dia melakukan penerjemahan teks tersebut di Chang'an (sekarang Xi'an), menarik banyak murid dan kolaborator dari seluruh Asia Timur. Ia dikenal jasanya atas penerjemahan 1.330 skripsi ke dalam Bahasa Mandarin.


Tahun 637, Xuanzang meninggalkan Lumbini ke Kusinagara, tempat Sang Buddha meninggal, sebelum menuju ke barat daya Sarnath di mana Sang Buddha pernah memberikan khotbah pertamanya. Berjalan ke timur, pertama via Varanasi, Xuanzang mencapai Vaisali, Pataliputra (Patna) dan Bodh Gaya. Ia kemudian ditemani oleh bhikkhu lokal menuju Nalanda, universitas kuno yang terkenal di India, di mana dia menghabiskan waktu dua tahun di sana. Xuanzang mempelajari bahasa Sanskerta dan Yogacara ketika berada di Nalanda.

Senin, 16 Mei 2016

Guru-Guru Besar Mahayana

MILAREPA

Riwayat hidup Milarepa dilahirkan di sebuah desa bernama Kya Ngatsa  yang juga dikenal dengan nama Tsa-di provinsi Gunthang sebelah barat Tibet. Ia berasal dari keluarga kaya, dengan ama lahir Mila Thöpaga (Thos-pa-dga'), yang berarti "Senang mendengarnya" (A joy to hear). Khyungpo adalah nama klan keluarganya, nama keluarganya adalah Josay. Ketika ayahnya meninggal dunia, paman dan bibi Milarepa mengambil seluruh kekayaan keluarga. Atas permintaan ibunya, Milarepa meninggalkan rumah dan pergi belajar Sihir. Sekembalinya ke kampung halaman, ia membalaskan dendam keluarga dengan mendatangkan badai besar pada saat perayaan pernikahan anak dari paman dan bibinya. Kejadian ini mengambil korban 35 orang, akan tetapi paman dan bibinya selamat. Warga setempat segera berusaha mengejar Milarepa, ibunya berhasil meminta Milarepa (dengan mengundang badai) untuk menghancurkan ladang mereka.


Kebajikan-kebajikan yang Milarepa lakukan, banyak terjadi di daerah Chokyi Dronma. Jalan kehidupan dan lagu-lagunya dikompilasi oleh Tsangnyon Heruka, yang disponsori oleh kakak laki-laki Chokyi Dronma, Thri Namgyal De (raja Gunthang). Pada usia lanjutnya, Milarepa meninggalkan jalan gelapnya: "Saya melakukan banyak kejahatan pada usia muda. Pada kedewasaan saya berlatih kemurnian. Sekarang, terbebas dari baik dan jahat, saya menghancurkan akar dari tindakan karma dan tidak mempunyai kondisi akan tindakan di masa mendatang. Berkata lebih dari ini akan menyebabkan tangisan dan tawa. Apa gunanya menyampaikan kepada anda? Saya sudah tua. Biarkan saya sendiri.